Terapi Ketergantungan Obat di Bandung
Sabtu, 09 November 2013
Penyebab Ketergantungan Obat
Penyalahgunaan dalam penggunaan obat adalah pemakain obat-obatan atau zat-zat berbahaya dengan tujuan bukan untuk pengobatan dan penelitian serta digunakan tanpa mengikuti aturan atau dosis yang benar.
Dalam kondisi yang cukup wajar/sesuai dosis yang dianjurkan dalam dunia kedokteran saja maka penggunaan narkoba secara terus-menerus akan mengakibatkan ketergantungan, depedensi, adiksi atau kecanduan.
Penyalahgunaan obat juga berpengaruh pada tubuh dan mental-emosional para pemakaianya. Jika semakin sering dikonsumsi, apalagi dalam jumlah berlebih maka akan merusak kesehatan tubuh, kejiwaan dan fungsi sosial di dalam masyarakat.
Pengaruh ketergantungan obat pada remaja bahkan dapat berakibat lebih fatal, karena menghambat perkembangan kepribadianya. Obat-obatan penennag dapat merusak potensi diri, sebab dianggap sebagai cara yang “wajar” bagi seseorang dalam menghadapi dan menyelesaikan permasalahan hidup sehari-hari.
Penyalahgunaan obat merupakan suatu pola penggunaan yang bersifat patologik dan harus menjadi perhatian segenap pihak.
Meskipun sudah terdapat banyak informasi yang menyatakan dampak negatif yang ditimbulkan oleh penyalahgunaan dalam mengkonsumsi narkoba, tapi hal ini belum memberi angka yang cukup signifikan dalam mengurangi tingkat penyalahgunaan obat-obatn yang bersifat adiksi.
Terdapat 3 faktor (alasan) yang dapat dikatakan sebagai “pemicu” seseorang dalam penyalahgunakan narkoba. Ketiga faktor tersebut adalah faktor diri, faktor lingkungan, dan faktor kesediaan narkoba itu sendiri.
1.Faktor Diri :
a.Keingintahuan yang besar untuk mencoba, tanpa sadar atau brfikir panjang tentang akibatnya di kemudian hari.
b.Keinginan untuk mencoba-coba kerena penasaran.
c.Keinginan untuk bersenang-senang.
d.Keinginan untuk dapat diterima dalam satu kelompok (komunitas) atau lingkungan tertentu.
e.Workaholic agar terus beraktivitas maka menggunakan stimulant (perangsang).
f.Lari dari masalah, kebosanan, atau kegetiran hidup.
g.Mengalami kelelahan dan menurunya semangat belajar.
h.Menderita kecemasan dan kegetiran.
i.Kecanduan merokok dan minuman keras. Dua hal ini merupakan gerbang ke arah penyalahgunaan narkoba.
j.Karena ingin menghibur diri dan menikmati hidup sepuas-puasnya.
k.Upaya untuk menurunkan berat badan atau kegemukan dengan menggunakan obat penghilang rasa lapar yang berlebihan.
l.Merasa tidak dapat perhatian, tidak diterima atau tidak disayangi, dalam lingkungan keluarga atau lingkungan pergaulan.
m.Ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan.
n.Ketidaktahuan tentang dampak dan bahaya penyalahgunaan narkoba.
o.Pengertian yang salah bahwa mencoba narkoba sekali-kali tidak akan menimbulkan masalah.
p.Tidak mampu atau tidak berani menghadapi tekanan dari lingkungan atau kelompok pergaulan untuk menggunakan narkoba.
q.Tidak dapat atau tidak mampu berkata TIDAK pada narkoba.
2.Faktor Lingkungan :
a.Keluarga bermasalah atau broken home.
b.Ayah, ibu atau keduanya atau saudara menjadi pengguna atau penyalahguna atau bahkan pengedar gelap nrkoba.
c.Lingkungan pergaulan atau komunitas yang salah satu atau beberapa atau bahkan semua anggotanya menjadi penyalahguna atau pengedar gelap narkoba.
d.Sering berkunjung ke tempat hiburan (café, diskotik, karaeke, dll.).
e.Mempunyai banyak waktu luang, putus sekolah atau menganggur.
f.Lingkungan keluarga yang kurang / tidak harmonis.
g.Lingkungan keluarga di mana tidak ada kasih sayang, komunikasi, keterbukaan, perhatian, dan saling menghargai di antara anggotanya.
h.Orang tua yang otoriter,.
i.Orang tua/keluarga yang permisif, tidak acuh, serba boleh, kurang/tanpa pengawasan.
j.Orang tua/keluarga yang super sibuk mencari uang/di luar rumah.
k.Lingkungan sosial yang penuh persaingan dan ketidakpastian.
l. Kehidupan perkotaan yang hiruk pikuk, orang tidak dikenal secara pribadi, tidak ada hubungan primer, ketidakacuan, hilangnya pengawasan sosial dari masyarakat,kemacetan lalu lintas, kekumuhan, pelayanan public yang buruk, dan tingginya tingkat kriminalitas.
m.Kemiskinan, pengangguran, putus sekolah, dan keterlantaran.
3.Faktor Ketersediaan Narkoba
Narkoba itu sendiri menjadi faktor pendorong bagi seseorang untuk memakai narkoba
karena :
a.Narkoba semakin mudah didapat dan dibeli.
b.Harga narkoba semakin murah dan dijangkau oleh daya beli masyarakat.
c.Narkoba semakin beragam dalam jenis, cara pemakaian, dan bentuk kemasan.
d.Modus Operandi Tindak pidana narkoba makin sulit diungkap aparat hukum.
e.Masih banyak laboratorium gelap narkoba yang belum terungkap.
f.Sulit terungkapnya kejahatan computer dan pencucian uang yang bisa membantu bisnis perdagangan gelap narkoba.
g.Semakin mudahnya akses internet yang memberikan informasi pembuatan narkoba.
h.Bisnis narkoba menjanjikan keuntugan yang besar.
i. Perdagangan narkoba dikendalikan oleh sindikat yagn kuat dan professional. Bahan dasar narkoba (prekursor) beredar bebas di masyarakat.
Definisi Ketergantungan Obat
Definisi: Ketergantungan Obat :
Ketergantungan obat (drug dependence) atau juga disebut kecanduan adalah situasi di mana penggunaan obat telah mengubah perilaku dan metode pengguna, menciptakan kebutuhan untuk terus menggunakan atau mendapatkan dosis lebih banyak.
Ketagihan adalah perbuatan kompulsif (yang terpaksa dilakukan) dan keterlibatan yang berlebihan terhadap suatu kegiatan tertentu. Kegiatan ini bisa berupa pertaruhan (judi) atau berupa penggunaan berbagai zat, seperti obat-obatan. Obat-obatan dapat menyebabkan ketergantungan psikis saja atau ketergantungan psikis dan fisik.
Ketergantungan Psikis :
Ketergantungan psikis merupakan suatu keinginan untuk terus meminum suatu obat untuk menimbulkan rasa senang atau untuk mengurangi ketegangan dan menghindari ketidaknyamanan. Obat-obat yang menyebabkan ketergantungan psikis biasanya bekerja di otak dan memiliki satu atau lebih efek berikut ini :
- mengurangi kecemasan dan ketegangan
- menyebabkan kegembiraan, euforia (perasaan senang yang berlebihan) atau perubahan emosi yang menyenangkan lainnya
- menyebabkan perasaan meningkatnya kemampuan jiwa dan fisik
- mengubah persepsi fisik
Ketergantungan psikis bisa menjadi sangat kuat dan sulit untuk diatasi. Hal ini terutama terjadi pada obat-obat yang mengubah emosi dan sensasi, yang mempengaruhi sistim saraf pusat.
Untuk para pecandu, aktivitas yang berhubungan dengan obat menjadi bagian yang penting dalam kehidupan sehari-hari, sehingga suatu bentuk ketagihan biasanya mempengaruhi kemampuan bekerja, proses belajar atau mempengaruhi hubungan dengan keluarga atau teman. Pada ketergantungan yang berat, sebagian besar pikiran dan aktivitas pecandu tertuju pada bagaimana memperoleh dan menggunakan obat-obat tersebut. Seorang pecandu bisa menipu, berbohong dan mencuri untuk bisa memuaskan rasa ketagihannya. Pecandu memiliki kesulitan untuk berhenti menggunakan obat dan seringkali kembali pada kebiasaannya setelah beberapa saat berhenti.
Ketergantungan Fisik :
Beberapa obat-obatan bisa menyebabkan ketergantungan fisik, namun ketergantungan fisik tidak selalu menyertai ketergantungan psikis. Pada obat-obat yang menyebabkan ketergantungan fisik, tubuh menyesuaikan diri terhadap obat yang dipakai secara terus menerus dan menyebabkan timbulnya toleransi; sedangkan jika pemakaiannya dihentikan, akan timbul gejala putus obat.
Toleransi adalah kebutuhan untuk meningkatkan secara progresif dosis obat untuk menghasilkan efek yang biasanya dapat dicapai dengan dosis yang lebih kecil.
Gejala putus obat terjadi jika pemakaian obat dihentikan atau jika efek obat dihalangi oleh suatu zat antagonis. Seseorang yang mengalami gejala putus obat, merasa sakit dan bisa menunjukkan banyak gejala, seperti sakit kepala, diare atau gemetar (tremor). Gejala putus obat bisa merupakan masalah yang serius dan bahkan bisa berakibat fatal.
Penyalahgunaan obat lebih dari sekedar efek fisiologisnya. Sebagai contoh, penderita kanker yang diobati selama beberapa bulan atau beberapa tahun dengan opioid (misalnya morfin), hampir tidak pernah menjadi pecandu narkotik, meskipun mereka bisa menjadi tergantung secara fisik. Penyalahgunaan obat adalah suatu konsep yang diartikan sebagai suatu gangguan fungsi perilaku yang mendapat penolakan dari masyarakat/lingkungan.
Di Amerika Serikat, istilah medis drug abuse (penyalahgunaan obat) diartikan sebagai penyimpangan fungsi dan maladaptasi, bukan ketergantungan yang disebabkan oleh penggunaan obat. Dalam bahasa sehari-hari, penyalahgunaan obat (drug abuse) sering diartikan sebagai :
- penggunaan obat ilegal untuk coba-coba dan untuk kesenangan
- penggunaan obat-obatan resmi untuk mengatasi masalah atau gejala tanpa resep dari dokter, dan
- penggunaan obat yang berakibat ketergantungan
Penyalahgunaan obat terjadi pada semua kelompok sosio-ekonomi dan meliputi golongan berpendidikan tinggi, orang-orang profesional, maupun mereka yang tidak berpendidikan dan tidak bekerja.
Meskipun penyalahgunaan obat memiliki efek yang kuat, tetapi efeknya sangat dipengaruhi oleh emosi pemakai dan lingkungan sekitarnya. Sebagai contoh, seseorang yang merasa sedih bisa menjadi lebih sedih setelah minum alkohol. Orang yang sama akan menjadi ceria bila meminumnya dengan teman yang senang. Kita tidak selalu dapat memperkirakan dengan tepat, apa yang akan diakibatkan oleh obat pada orang yang sama setiap ia meminumnya.
Cara terjadinya ketergantungan obat belum diketahui secara jelas. Proses ini dipengaruhi oleh zat kimia yang terkandung di dalam obat, efek obat, kepribadian pengguna obat dan kondisi-kondisi lainnya, seperti faktor keturunan dan tekanan sosial. Perkembangan dari pemakaian coba-coba menjadi penggunaan sekali-sekali, kemudian menjadi toleransi dan ketergantungan, belum begitu bisa dimengerti.
Banyak pemikiran mengenai istilah kepribadian pecandu. Orang yang kecanduan sering merasa rendah diri, tidak dewasa, mudah frustasi dan memiliki kesulitan dalam menyelesaikan masalah pribadi dan kesulitan dalam berhubungan dengan lawan jenisnya.
Para pecandu mungkin mencoba untuk lari dari kenyataan yang digambarkan sebagai ketakutan, penarikan diri dan depresi. Beberapa pecandu bahkan memiliki riwayat percobaan bunuh diri atau melukai dirinya sendiri.
Para pecandu kadang digambarkan sebagai pribadi yang tergantung, memerlukan dukungan dalam membina hubungan dan memiliki kesulitan dalam menjaga diri mereka sendiri. Pecandu lainnya memperlihatkan adanya kemarahan yang jelas dan tidak disadari dan ekspresi seksual yang tak terkendali; mereka mungkin menggunakan obat-obatan untuk mengendalikan perilaku mereka.
Bukti yang ada menunjukkan bahwa sebagian besar dari ciri tersebut timbul sebagai akibat dari kecanduan jangka panjang dan bukan penyalahgunaan obat yang baru saja terjadi.
Terkadang anggota keluarga atau teman bisa berkelakuan seakan-akan mengijinkan sang pecandu melanjutkan penyalahgunan obat atau alkohol; orang-orang ini disebut kodipenden (juga disebut pemberi ijin). Kodipenden bisa mendukung sang pecandu untuk menghentikan kebiasaan penggunaan obat-obatan atau alkohol namun mereka jarang melakukan sesuatu untuk membantu mengubah perilaku si pecandu.
Anggota keluarga atau teman yang peduli seharusnya menganjurkan sang pecandu untuk berhenti menyalahgunakan obat dan masuk ke program pengobatan.
Bila sang pecandu menolak mencari pengobatan, anggota keluarga atau teman tersebut bisa mengancam untuk menariknya dari pergaulan. Pendekatan ini mungkin tampaknya kejam, namun jika disertai intervensi yang profesional maka hal ini dapat menjadi salah satu cara untuk meyakinkan sang pecandu bahwa perubahan perilaku harus dilakukan.
Pecandu yang hamil, akan membahayakan janin yang dikandungnya dengan obat-obatan yang ia gunakan. Pecandu yang hamil seringkali tidak mau mengaku pada dokter atau perawat bahwa ia menggunakan alkohol dan obat-obatan. Janin yang dikandung bisa mengalami ketergantungan secara fisik. Segera setelah lahir, bayi tersebut bisa mengalami gejala putus obat yang berat atau bahkan fatal, terutama jika dokter dan para perawat tidak mengetahui bahwa ibunya seorang pecandu. Bayi yang selamat dari gejala putus obat juga bisa mengalami masalah-masalah lainnya.
Langganan:
Postingan (Atom)
